Sample Text

Text Widget

Total Tayangan Laman

Blogger templates

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Pengikut

RSS
Container Icon

ISLAM ITU EMANG INDAH

Islam adalah agama yang paling indah dan sempurna , semua hal telah di ajarkan oleh nabi muhammad shallallahu alaihi wassalam .Berikut adalah keindahan agama islam :

- Senyum untuk saudara muslim mu adalah ibadah (kalo gk salah bunyi hadist begitu )Indah bukan padahal cuma masalah sepeleh tapi sudah bernilai ibadah .

-cuma agama islam yang sepanjang waktu untuk selalu berdoa , jadi seorang muslim tidak pernah lupa dengan tuhan nya .Pertama doa bangun tidur , abis bangun tidur mandi >masuk kamar mandi ada doa nya udah selesai keluar dari kamar mandi ada doa nya .setelah selesai mandi memakai pakaian nyisir dan ngaca dan semua itu ada doa nya ,setelah rapi sarapan pagi doa sebelum dan sesudah makan ada doa nya sarapan selesai berangkat kerja/sekolah/kuliah keluar rumah/berpergian ada doa nya naik kendaraan ada doa nya , terus bagi yang belajar ada doa sebelum dan sesudah belajar singkat cerita pulang kerumah , masuk rumah ada doa nya , terus sebelum tidur ada doa nya .Cuma agama islam kan yang semua kegiatan ada doa nya sepanjang hari .

-menyingkirkan duri di jalan adalah sedekah , bahkan Allah berterima kasih kepada kita .-salaman atau berjabat tangan (yang laki laki sma laki laki dan perempuan sma perempuan ) berkurang dosa nya .

- cuma agama islam yang mempunyai salam .(as-salamua'alaikum warahmatullahi wabarakatuh). Saling mendoakan .

-menjenguk orang sakit di doain 70ribu malaikat .Dll masih banyak keindahan islam , semua itu sudah di contohkan kanjeng nabi muhammad shallallahu alaihi wassalam .Tapi di zaman sekarang keindahan islam banyak juga yang telah di rusak oleh kaum muslimin, yah nama nya juga akhir zaman .

Di Agama Islam Semua bersaudara tidak memandang harta jabatan yang di lihat Allah hanya ke taqwaan.

Sumber : http://www.taufikismail.web.id/2012/09/keindahan-agama-islam.html

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Keindahan Islam Yang Berupa Perintah-Perintah Dan Larangan-Larangan

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas


A. Keindahan Islam yang Berupa Perintah-Perintah:

1. Islam memerintahkan kita agar bertauhid secara murni (beribadah hanya kepada Allah Azza wa jalla saja, tidak kepada yang selain-Nya), ber‘aqidah yang benar sesuai dengan pemahaman para Shahabat karena yang demikian itu dapat membawa kepada ketentraman hati. ‘Aqidah yang diajarkan Islam dapat menjadikan mulia, menampakkan harga diri dan memberikan kelezatan iman.

2. Islam memerintahkan agar berbakti kepada kedua orang tua, menghubungkan silaturahmi dan menghormati tetangga.

3. Islam mengajarkan agar berbuat dan berupaya untuk memenuhi dan membantu kebutuhan-kebutuhan kaum Muslimin dan meringankan beban kesengsaraan mereka.

4. Islam menganjurkan terlebih dahulu memberi ucapan salam kepada setiap muslim yang kita jumpai dan menolong kaum Muslimin.

5. Islam mengajurkan agar menjenguk orang yang sakit, mengantar jenazah, berziarah kubur, dan mendo’akan sesama kaum Muslimin.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ قِيْلَ: مَا هُنَّ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: إِذَا لَقِيْتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ، وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ، وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللهَ فَشَمِّتْهُ، وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ، وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ.

“Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada enam.” (Para Shahabat bertanya), “Apa saja wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “(1) Apabila engkau berjumpa dengannya, maka ucapkanlah salam, (2) bila ia mengundangmu, maka penuhilah undangannya, (3) bila ia meminta nasihat, maka nasihatilah, (4) bila ia bersin lalu mengucapkan tahmid (alhamdulillaah), maka do’akanlah (dengan ucapan: ‘Yarhamukallaah’), (5) bila ia sakit, maka jenguklah, dan (6) bila ia wafat, maka antarkanlah jenazahnya (ke pemakaman).” [2]

6. Islam menyuruh agar berlaku adil kepada orang lain dan mencintai apa yang dicintai mereka sebagaimana kita mencintai diri sendiri.

اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

“…Berlaku adillah, karena (adil itu) lebih dekat kepada takwa….” [Al-Maa-idah: 8]

7. Islam menyuruh berikhtiar untuk mencari rizki, menjaga kehormatan diri dan mengangkatnya dari posisi yang hina dan lemah.
Dalam mencari rizki, seseorang hendaknya berikhtiar terlebih dahulu, baru kemudian bertawakal (menggantungkan harapan) hanya kepada Allah Azza wa Jalla, sebagaimana yang diperintahkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُوْنَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُوْ خِمَاصًا وَتَرُوْحُ بِطَانًا.

“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sungguh-sungguh, maka sungguh kalian akan diberikan rizki oleh Allah sebagaimana Dia memberikannya kepada burung. Pagi hari ia keluar dalam keadaan kosong perutnya, kemudian pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.” [3]

8. Islam mengajarkan berlaku amanah (dipercaya), menepati janji, baik sangka (husnu zhan), tidak tergesa-gesa dalam segala perkara dan berlomba dalam melakukan kebajikan.

B. Keindahan Islam Yang Berupa Larangan-Larangan:

Di antara keindahan Islam adalah larangan-larangan yang memperingatkan seorang muslim agar tidak terjerumus ke dalam keburukan dan ancaman keras atas akibat buruk dari perbuatan tercela itu. Di antara larangan Islam itu adalah:

1. Islam melarang syirik, yaitu menyekutukan Allah Azza wa Jalla dengan sesuatu. Allah Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Allah mengampuni (dosa) selainnya bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” [An-Nisaa': 48]

2. Islam melarang kekafiran, kefasikan, kedurhakaan dan menuruti keinginan hawa nafsu.

3. Islam melarang bid’ah (mengadakan sesuatu ibadah yang baru dalam agama).

4. Islam melarang riba dan makan harta riba. Allah Subhanahu wa Ta'ala melaknat orang yang makan riba, wakilnya, saksi dan penulisnya.[4]

5. Islam melarang sifat takabur, dengki, ujub (bangga diri), hasad, mencela, memaki orang lain dan mengganggu tetangga.

6. Islam melarang perbuatan menggunjing (ghibah), yaitu membicarakan keburukan orang lain dan mengadu domba (namimah), yaitu mengadakan provokasi di antara sesama untuk menimbulkan kerusakan dan permusuhan.

7. Islam melarang banyak berbicara yang tidak berguna, menyebarluaskan rahasia orang lain, memperolok-olok dan menganggap remeh orang lain.

8. Islam juga melarang mencaci-maki, mengutuk, mencela dan ungkapan-ungkapan buruk dan memanggil orang lain dengan panggilan-panggilan buruk.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat. Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk (fasiq) sesudah beriman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim. Wahai orang-orang yang beriman. Jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” [Al-Hujuraat: 10-12]

9. Islam melarang kita banyak berdebat, bertengkar, percandaan hina yang dapat membawa kepada kejahatan dan meremehkan orang lain.

10. Islam melarang pengkhianatan, perbuatan makar, ingkar janji dan fitnah yang dapat menyebabkan orang lain berada dalam ketidakpastian.

11. Islam melarang seorang anak durhaka kepada kedua orang tua dan memutus hubungan silaturahmi dengan sanak kerabat famili terdekat.

12. Islam melarang berburuk sangka, memata-matai dan mencari-cari kesalahan orang lain.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain...” [Al-Hujuraat: 12]

13. Islam melarang membuat tato, mengerik bulu wajah, mencukur alis, menyambung rambut (sanggul) dan memakai pakaian yang tidak menutup aurat.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لَعَنَ اللهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُسْتَوْشِمَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ وَالْمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ، اَلْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللهِ.

“Allah melaknat wanita yang bertato, wanita yang meminta ditato, wanita yang mengerik bulu wajah, wanita yang mencukur bulu alis matanya dan wanita yang mengikir giginya agar tampak cantik, mereka telah mengubah ciptaan Allah.” [5]

Dalam riwayat lain, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melaknat wanita yang menyambung rambut dan meminta disambung rambutnya. [6]

Rasulullah Shallallahu a'alaihi wa sallam mengancam dengan masuk Neraka bagi wanita yang tidak berbusana muslimah (berjilbab yang menutupi aurat), Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا، قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ، يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيْلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُؤُوْسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ البُخْتِ الْمَائِلَةِ، لاَيَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيْحَهَا، وَإِنَّ رِيْحَهَا لَيُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ كَذَا وَكَذَا.

“Ada dua golongan penduduk Neraka, yang belum pernah aku lihat keduanya,
yaitu suatu kaum yang memegang cemeti seperti ekor sapi untuk mencambuk manusia dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, ia berjalan berlenggak-lenggok dan kepalanya dicondongkan seperti punuk unta yang condong. Mereka tidak akan masuk Surga dan tidak akan mencium aroma Surga, padahal sesungguhnya aroma Surga dapat tercium sejauh perjalanan begini dan begini.” [7]

Syarat jilbab wanita muslimah yang sempurna:
a. Menutup seluruh tubuh, kecuali wajah dan dua telapak tangan.
b. Kainnya tebal, tidak tipis atau transparan.
c. Harus longgar, tidak ketat.
d. Tidak memakai wangi-wangian (parfum).
e. Tidak menyerupai pakaian laki-laki.
f. Tidak menyerupai pakaian wanita kafir.[8]

14. Islam melarang minuman keras (khamr), mengkonsumsi atau memperjualbelikan narkoba dan melarang perjudian.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ ۖ فَهَلْ أَنتُم مُّنتَهُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamr (minuman keras), berjudi, (berkorban untuk) berhala dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah (per-buatan-perbuatan itu) agar kamu beruntung. Dengan minuman keras dan judi itu syaitan bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan melaksanakan shalat, maka tidakkah kamu mau berhenti?” [Al-Maa-idah: 90-91]

15. Islam melarang promosi palsu dan dusta, curang dalam takaran dan timbangan. Menggunakan harta kekayaan dalam hal yang diharamkan.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ وَإِذَا كَالُوهُمْ أَو وَّزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ

“Celakalah bagi orang-orang yang curang. (Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi.” [Al-Muthaffifin: 1-3]

16. Islam melarang perbuatan saling menjauhi satu sama lain, saling bermusuhan, acuh tak acuh dan melarang seorang muslim tidak menegur saudaranya sesama muslim lebih dari tiga hari.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثِ لَيَالٍ: يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلاَمِ.

“Tidak halal bagi seorang muslim untuk membiarkan saudaranya lebih dari tiga hari, keduanya bertemu tetapi saling memalingkan muka. Dan yang terbaik dari keduanya adalah yang memulai mengucapkan salam.” [9]

17. Islam melarang onani, perzinahan, homoseks, lesbian dan membunuh jiwa yang diharamkan Allah Azza wa Jalla. Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka (dalam hal ini) tiada tercela. Tetapi barangsiapa mencari yang di balik (zina dan sebagainya) itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” [Mukminun: 5-7]

18. Islam melarang kita menerima uang sogokan (suap) atau menyuap orang lain. Dalam sebuah hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhuma :

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاشِى وَالْمُرْتَشِى.

“Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melaknat orang yang menyuap dan orang yang menerima suap.” [10]

Orang yang menyuap dan yang disuap hukumnya sama bagi keduanya, yaitu berdosa. Suap menyuap hukumnya haram, meskipun mereka memakai istilah “hadiah”, “uang jasa”, “uang damai”, dan lainnya.

Demikianlah ulasan singkat tentang perintah-perintah dan larangan-larangan Islam yang menunjukkan kebenaran dan keindahannya.

[Disalin dari buku Prinsip Dasar Islam Menutut Al-Qur’an dan As-Sunnah yang Shahih, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan ke 3]

Footnote
[1]. Lihat ath-Thariq ilal Islam oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd.
[2]. HR. Muslim (no. 2162 (5)) dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu
[3]. HR. At-Tirmidzi (no. 2344), Ahmad (I/30), Ibnu Majah (no. 4164). At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan shahih.” Dishahihkan pula oleh al-Hakim (IV/318) dari Shahabat ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu, lafazh ini milik Ahmad.
[4]. HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud dan lainnya.
[5]. HR. Al-Bukhari (no. 4886, 5931, 5948) dan Muslim (no. 2125) dari Shahabat ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu. Lihat keterangan lengkap dalam Adabuz Zifaf (hal 202-203).
[6]. HR. Al-Bukhari (no. 5947) dan Muslim (no. 2124) dari Shahabat Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma.
[7]. HR. Muslim (no. 2128), dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.
[8]. Untuk lebih lengkapnya, silakan lihat kitab Jilbabul Maratil Muslimah oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani v.
[9]. HR. Al-Bukhari (no. 6077) dan Muslim (no. 2560) dari Shahabat Abu Ayyub al-Anshary Radhiyallahu anhu.
[10]. HR. Abu Dawud (no. 3580), at-Tirmidzi (no. 1337) dan ia berkata: “Hadits hasan shahih.”

Sumber :
 http://almanhaj.or.id/content/2265/slash/0/keindahan-islam-yang-berupa-perintah-perintah-dan-larangan-larangan/

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ucapan Salam Bukti Keindahan Islam



Salam merupakan ucapan bagi kaum muslimin dan yang paling sempurna iaitu mengucapkan secara penuh "Assalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh" dan kandungan ucapan salam ini di penuhi dengan doa keselamatan, rahmat dan barakah bagi sesama muslim.

Salam adalah salah satu nama dari nama-nama Allah yang indah, manakala ucapan salam adalah merupakan keindahan di antara keindahan-keindahan Islam. Ia termasuk hak seorang muslim kepada saudaranya sesama muslim apabila berjumpa, baik pada orang yang dikenali atau orang yang tidak dikenali olehnya, samada orang besar atau kecil, kaya atau miskin, mulia atau rendah, semua sama saja berhak mendapat ucapan salam ketika berjumpa.
Ucapan salam terkandung di dalamnya sikap tawadhu seorang muslim di mana dirinya tidak merasa sombong pada orang lain. Oleh kerana itu dikatakan " Sesiapa yang mahu memulai ucapan salam kepada manusia, maka dirinya telah berlepas diri dari sikap sombong ".[1] Manusia yang paling pemurah adalah yang memulai salam di antara mereka, sedangkan orang yang paling kedekut adalah orang yang kedekut mengucapkan salam. 
Menyebarkan salam merupakan sebab terjalinnya rasa saling sayang dan mencintai di antara kaum muslimin yang mewajibkan padanya keimanan yang akan memasukan dirinya ke dalam syurga dan selamat dari seksa neraka. Hal itu sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((لا تدخلوا الجنة حتى تؤمنوا ولا تؤمنوا حتى تحابوا، ألا أدلكم على شيء إذا فعلتموه تحاببتم أفشوا السلام بينكم)) (رواه مسلم)
"Tidaklah kamu boleh masuk syurga sehingga kamu beriman. Tidaklah kamu dikatakan telah beriman sampai kamu saling mencintai. Mahukah kamu aku beritahu kamu suatu perkara yang jika kamu melakukannya akan menjadikan kamu saling mencintai, iaitu sebarkanlah salam sesama kamu". HR Muslim 
Bagi seseorang muslim yang diberi salam, maka wajib atas dirinya untuk menjawabnya dengan ucapan yang seumpama atau yang lebih baik darinya. Ini berdasarkan firman Allah Ta'ala:
قال الله تعالى: { وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَةٍ فَحَيُّوا بِأَحسَنَ مِنهَآ أَو رُدُّوهَآ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَىءٍ حَسِيبَاً }   ( سورة النساء : 86)
"Apabila kamu diberi ucapan penghormatan (salam) dengan sesuatu penghormatan, Maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa) ". Surah an-Nisaa': 86.
Inilah salam penghormatan bagi kaum muslimin yang di bawa oleh agam Islam, Allah Ta'ala berfirman:
قال الله تعالى: {   تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً }   ( سورة النور : 61)
"Salam yang telah ditetapkan dari sisi Allah, yang telah diberkati lagi baik..".  QS an-Nuur: 61.
Berbeza dengan salam orang yahudi dan nasrani, kerana salam orang-orang yahudi hanya dengan mengisyaratkan jari sementara salamnya orang-orang nasrani dengan isyarat  telapak tangan. Kita telah dilarang untuk mengikuti serta menyerupai mereka. Begitu juga tidak boleh memulai salam kepada mereka.
Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((ليس منا من تشبه بغيرنا لا تشبهوا باليهود ولا بالنصارى، فإن تسليم اليهود الإشارة بالأكف)) (رواه ترميذي والطبراني)
"Bukan termasuk golongan kami orang yang menyerupai selain kami (orang bukan islam). Janganlah kamu menyerupai orang-orang yahudi dan nasrani, sesungguhnya salamnya orang-orang yahudi adalah dengan mengisyaratkan telapak tangan".
HR Tirmidzi dan ath-Thabrani.
Baginda saw juga bersabda:
"Janganlah kamu memulai salam bersama orang-orang yahudi dan nasrani".
HR Muslim.
Baginda Shalallahu 'alaihi wa sallam menegaskan dalam sabdanya:
"Barangsiapa yang menyerupai sebuah kaum maka dia seperti mereka".
HR Ahmad, Abu Dawud dan disahihkan oleh Ibnu Hiban. 
Larangan tersebut kerana nama Allah Ta'ala adalah salam dan dariNya sahajalah salam (keselamatan) itu diberikan hanya kepada para hambaNya yang muslim.
Ucapan salam adalah salam penghormatan bagi kaum muslimin ketika di dunia dan di akhirat nanti, yang dijelaskan oleh Allah Ta'ala dalam firmanNya:
قال الله تعالى: {  تَحِيَّتُهُمۡ يَوۡمَ يَلۡقَوۡنَهُۥ سَلَٰمٞۚ وَأَعَدَّ لَهُمۡ أَجۡرٗا كَرِيمٗا ٤٤ }   ( سورة الأحزاب : 44)
"Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mukmin itu) pada hari mereka menemui-Nya Ialah: Salam, dan Dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka". 
QS al-Ahzab: 44.
Dalam ayat yang lain di jelaskan:
قال الله تعالى: {  لَا يَسۡمَعُونَ فِيهَا لَغۡوٗا وَلَا تَأۡثِيمًا ٢٥ إِلَّا قِيلٗا سَلَٰمٗا سَلَٰمٗا ٢٦ }   ( سورة الوَاقِعَةِ : 26-25)
"Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa, akan tetapi mereka mendengar ucapan salam".
 QS al-Waqi'ah: 25-26.
Demikianlah indahnya Islam sebagai agama yang penuh dengan kesejahteraan dan keselamatan, juga agama yang penuh dengan kasih sayang dan persaudaraan. Ya Allah Engkaulah Salam, kepadaMu kembali keselamatan itu, maka hidupkanlah kami dengan keselamatan serta selamatkan kami dari segala yang ganguan dan bala bencana dan masukkan kami ke syurgamu, darussalam. 
Sumber : http://manaratulhuda.blogspot.com/2012/05/ucapan-salam-bukti-keindahan-islam.html

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

KEINDAHAN ISLAM DALAM HAK-HAK TETANGGA



            Seperti yang telah disebutkan pada al Qur’an surat An Nisa ayat 36, yang berbunyi.
“Sembahlah Allah dan jangan kamu sekalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, sanak kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hama sahayamu”.
Dan kita bahkan dilarang untuk mengganggunya. Maka simaklah hadits-hadist berikut ini.

“Dari Ibnu Umar dan ‘Aisyah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Malaikat jibril senantiasa berpesan kepadaku untuk selalu berbuat baik terhadap tetangga sehingga aku menyangka bahwa tetangga itu akan ikut mewarisinya”.
[HR.Bukhori dan Muslim]

“Dari Abu Hurairah, Bahwasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Demi Allah seseorang itu tidaklah sempurna imannya. Demi Allah seseorang itu tidaklah sempurna imannya. Demi Allah seseorang itu tidaklah sempurna imannya”. Ada seorang yang bertanya,”Siapakah seseorang yang tidak sempurna imannya itu wahai Rasulullah ?”. Beliau menjawab,”Orang yang tetangganya tidak merasa aman karena gangguannya”.
[HR. Bukhori dan Muslim]
Dalam Riwayat Muslim dikatakan : “Tidaklah masuk surga orang yang tetangganya tidak aman karena gangguannya”.

“Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Sebaik – baik teman menurut Allah yaitu orang yang paling baik terhadap temannya. Dan sebaik-baik tetangga menurut Allah yaitu yang paling baik terhadap tetangganya”.
[HR. Tirmidzi]

            Pada ayat al Qur’an dan hadits diatas maka semua intinya adalah perintah untuk berbuat baik kepada tetangga dan larangan untuk menyakitinya apalagi sampai merasa tidak aman dengan kehadiran kita sebagai tetangganya maka ancaman yang kita dapatkan adalah tidak masuk surga berdasarkan hadits riwayat imam Muslim di atas. Jika kita berbuat baik kepada tetangga kita maka sangat memungkinkan bahwa tetangga kita akan meniru perilaku dan sikap kita tersebut dan akan menjadikan atau membentuk masyarakat yang nyaman, aman dan tentram.
            Mungkin sebagian orang akan berpikir, bagaimana jika tetangga kita tersebut salah satunya adalah orang kafir ??. Maka sikap kita juga sama, yaitu tetap memberi hak-haknya dalam etika bertetangga, dengan tidak menyakitinya dan mengganggunya. Karena jika terdapat tetangga kita yaitu orang yang kafir, maka dia masih memiliki satu hak yaitu hak-hak sebagai tetangga. Dan jika tetangga kita itu adalah seorang muslim, maka dia memiliki dua hak, yaitu hak sebagai tetangga dan hak sebagai sesama kaum muslimin. Dan dalam hal ini bukan berarti kita loyal terhadapnya. Karena juga ada suatu hadits yang mengisahkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjenguk seorang yahudi yang sedang sakit.

Sumber :  http://situsresmimdk.blogspot.com/2011/12/beberapa-keindahan-dalam-islam-bag1.html

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Memandang Keindahan Islam

 

Islam adalah agama Allah SWT yang sempurna dan penuh petunjuk. Tak satu agama pun yang diridhoi Allah selain Islam. Kemulian, keindahan, keagungan dan segala sifat yang terpuji telah menjadi cahaya Islam yang tidak akan sirna hingga hari kiamat. Betapapun kebencian orang-orang yang anti terhadapnya, namun Islam tetaplah Islam, kemulian dan keagungannya akan tetap menghiasinya walaupun musuh- musuh Allah berusaha untuk memadamkan kemilaunya , walaupun orang-orang munâfiqûn tak kenal letih dan tiada kehabisan akal dalam mendatangkan makar di tengah kebesarannya, dan walaupun segelentir penganutnya -sadar maupun tak sadar- telah mencoreng dan merusak keindahannya di mata manusia.

Ingatlah bahwa Allah SWT telah menegaskan,
"Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci. Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci." ( QS. Ash-Shof : 8-9 )

"Dia-lah yang mengutus Rasul- Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi." ( QS. Al-Fath : 28 )

"Mereka (ornag-orang munâfiqûn) berkata: "Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya. Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui." ( QS. Al-Munâfiqûn : 8 )

Dan patut untuk diketahui bahwa akan tetap ada dari ulamanya yang akan membela dan menampakkan kebenarannya hingga hari kiamat. Rasulullâh shollallâhu 'alaihi wa 'alâ âlihi wa sallam bersabda,
لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ
"Terus menerus ada sekelompok dari umatku yang mereka tetap nampak diatas kebenaran, tidak membahayakan mereka orang mencerca mereka hingga datang ketentuan Allah (hari kiamat) dan mereka dalam keadaan seperti itu." [1]
Dan ingatlah, akan tetap ada yang akan tampil dari ulamanya guna menjawab segala tuduhan, menepis segala syubhat (kerancuan, kesamaran) dan menghancurkan seluruh makar musuh-musuhnya. Sebagaimana dalam sabda Nabi shollallâhu 'alaihi wa 'alâ âlihi wa sallam,
يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُوْلُهُ يَنْفُوْنَ عَنْهُ تَحْرِيْفَ الْغَالِيْنَ وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِيْنَ وَتَأْوِيْلَ الْجَاهِلِيْنَ
"Ilmu (agama) ini akan disandang -pada setiap generasi- oleh orang-orang adilnya. Mereka menepis darinya tahrîf (perubahan, pembelokan) orang- orang yang melampaui batas, jalan para pengekor kebatilan dan takwîl orang-orang jahil." [2]


Sumber : http://artikel.mywapblog.com/post/66.xhtml

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

KEINDAHAN ISLAM DARI SEGI HAK-HAK KELUARGA


          Alah Subhanahu Wa Ta’ala telah memerintahkan kita kaum muslimin untuk berbuat baik kepada keluarga dan orang yang punya hubungan kekerabatan dengan kita, terutama adalah orang tua kita. Salah satu hak keluarga adalah terus di sambung hubungan kekeluargaannya itu dengan cara saling bersilaturahim. Sebagaimana yang tertera dalam al Qur’an dan hadits di bawah ini yang memerintahkan kepada kita agar selalu menjaga hubungan kekeluargaan.

“Bertakwalah kamu sekalian kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu sekalian saling meminta satu sama lain dan peliharalah hubungan silaturahim”.
[QS. An Nisa : 1]

“Sembahlah Allah dan jangan kamu sekalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, sanak kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hama sahayamu”.
[QS.An Nisa : 36]

“Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam besabda,”Barangsiapa yang beriman kepada Alah dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tamunya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah maka hendakhal ia menghubungkan tali silaturahmi. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari akhir maka hendaklah ia berkata dengan perkataan yang baik atau kalau tidak, hendaklah diam”.
[HR. Bukhori dan Muslim]
           
            Kita sebagai orang yang beriman haruslah menghubungkan tali persaudaraan dengan kerabat dekat maupun keluarganya. Dengan begitu ia akan merasakan indahnya persatuan dan kesatuan antara muslimin. Tetapi untuk bisa megamalkan perintah diatas yaitu menyambung tali silaturahmi maka yang harus kita lakukan sebelumnya adalah mengenal atau mengetahui siapa saja yang termasuk keluarga dekat dan keluarga yang jauh, siapa kerabat dekatnya dan siapa kerabat dekatnya, baru setelah itu kita mulai menyambung hubungan persaudaraan kita dengan rumahnya / dengan menelponnya dan dengan sarana-sarana lainnya.

“Dari Abdullah bin ‘Amr bin al ‘Ash, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”orang yang menghubungkan persahabatan bukanlah orang yang memberi jaminan, tetapi orang yang menghubungkan persahabatan adalah orang yang apabila sanak kerabatnya memutuskan hubungan maka ia menyambungnya”.
[HR. Bukhori]

            Begitulah yang dimaksud dengan menghubungkan tali persaudaraan atau tali silaturahmi, yaitu orang yang tetap menyambung persaudaraannya meskipun saudara/ kerabatnya itu menyambungkannya atau memutuskannya. Dan kita tidaklah diperbolehkan menyambung tali silaturahim karena kerabatnya tersebut menyambungnya dan memutuskan tali silaturahim karena kerabatnya tersebut memutusnya.
Sumber :   http://situsresmimdk.blogspot.com/2011/12/beberapa-keindahan-dalam-islam-bag1.html

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Keindahan Islam dalam Pergaulan Laki-laki dan Perempuan



Sebagaimana telah diketahui bersama, bahwa Allah Ta’ala telah menciptakan manusia ini dalam dua jenis, pria dan wanita. Dan sebagaimana telah diketahui pula bahwa kaum pria pasti membutuhkan kepada kaum wanita, bahkan tidaklah akan sempurna kepriaan/kejantananan kaum pria kecuali dengan adanya wanita yang menjadi pasangan hidupnya. Begitu juga kaum wanita, mereka pasti membutuhkan kepada kaum pria, dan kewanitaannya tidaklah akan sempurna melainkan dengan adanya seorang pria yang menjadi pasangan hidupnya. Mereka saling membutuhkan, saling melengkapi, dan saling memenuhi kebutuhan pasangannya.

Maha suci Allah Yang telah menjadikan kelemahan masing-masing jenis sebagai simbul kesempurnaannya bagi pasangannya. Kaum pria memiliki kelemahan dalam banyak hal, misalnya ia tidak dapat mengandung, kurang sabar mengatur dan merawat anak dan rumah, kurang bisa berdandan, bersuara keras dan kasar, kurang bisa lemah lembut, akan tetapi kekurangan-kekurangannya ini merupakan kesempurnaan bagi wanita yang menjadi pasangannya. Sehingga bila ada pria yang lemah lembut, bersuara merdu, jalannya melenggak-lenggok, suka memasak, senantiasa berdandan biasanya dikatakan sebagai pria yang kurang normal, atau yang sering disebut dengan waria. Begitu juga sebaliknya, kaum wanita memiliki kelemahan berupa, tidak perkasa, bersuara lantang/lantang, kurang bisa tegas, mudah takut, selalu datang bulan, kurang gesit, dan seterusnya. Akan tetapi berbagai kekurangannya ini merupakan kesempurnaan bagi pria yang menjadi pasangannya, sehingga bila ada wanita yang berpenampilan perkasa, bersuara keras, dan tidak suka berdandang maka biasanya disebut dengan tomboy.

Walau demikian, syari’at Al Qur’an tidaklah membiarkan mereka berpasangan bebas, dan dengan cara apapun. Sebab, yang diciptakan dalam keadaan berpasang-pasang semacam ini bukan hanya manusia, tetapi ada mahluk-mahluk lain yang diciptakan demikian juga, misalnya binatang. Binatang juga diciptakan dalam keadaan berpasang-pasang, jantan dan betina, dan mereka saling berpasangan pula.
Oleh karena itu, syari’at Al Qur’an mengatur hubungan antara pria dan wanita dengan syari’at yang dapat menjaga martabat mereka sebagai mahluk yang mulia dan membedakan hubungan sesama mereka dari hubungan binatang sesama binatang. Manusia adalah mahluk yang telah dimuliakan oleh Allah di atas mahluk-mahluk selain mereka, oleh karena itu hendaknya kita sebagai manusia menjaga kehormatan ini dengan cara menjalankan syari’at Al Qur’an yang telah menetapkan kehormatan kita tersebut:
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al Isra’: 70)
Syari’at Al Qur’an hanya membenarkan dua cara bagi manusia untuk menjalin hubungan dengan lawan jenisnya:

A. Cara perbudakan
Cara ini hanya dapat dilakukan melalui peperangan antara umat Islam melawan orang-orang kafir, dan bila kaum muslimin berhasil menawan sebagian dari mereka, baik lelaki atau wanita, maka pemimpin umat Islam berhak untuk memperbudak mereka, dan juga berhak untuk meminta tebusan atau membebaskan mereka tanpa syarat.

B. Pernikahan
Hanya dengan dua cara inilah manusia dibenarkan untuk menjalin hubungan dengna pasangannya. dan hanya dengan dua cara inilah tujuan disyari’atkannya hubungan dengan lawan jenis akan dapat dicapai dengan baik. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman dalam Al Qur’an,
“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu menyatu dan merasa tentram kepadanya. Dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar Rum: 21)
Dan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan akan syari’at yang mengatur hubungan antara lawan jenis ini dengan sabdanya,
“Tidaklah pernah didapatkan suatu hal yang berguna bagi doa orang yang saling mencintai serupa dengan pernikahan.” (HR. Ibnu Majah, Al Hakim, Al Baihaqi dan dishahihkan oleh Al Albani)
Adapun berbagai hubungan selain cara ini, maka tidaklah dibenarkan dalam syari’at Al Qur’an, oleh karena itu Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Janganlah sekali-kali seorang lelaki menyendiri dengan seorang wanita, kecuali bila wanita itu ditemani oleh lelaki mahramnya.” (Muttafaqun ‘alaih)
Pada hadits lain Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan alasan larangan ini,
“Janganlah salah seorang dari kamu berduaan dengan seorang wanita, karena setanlah yang akan menjadi orang ketiganya.” (HR. Ahmad, At Tirmizi, An Nasa’i dan dishahihkan oleh Al Albani)
Bukan hanya syari’at Al Qur’an yang mencela berbagai hubungan lawan jenis diluar pernikahan, bahkan masyarakat kitapun dengan tegas mencela hubungan tersebut, sampai-sampai mereka menyamakan hubungan tersebut dengan hubungan yang dilakukan oleh mahluk selain manusia, yaitu binatang. Mereka menjuluki hubungan di luar pernikahan dengan sebutan “kumpul kebo”. Julukan ini benar adanya, sebab yang membedakan antara hubungan lawan jenis yang dilakukan oleh binatang dan yang dilakukan oleh manusia ialah syari’at pernikahan. Dan pernikahan dalam syari’at Al Qur’an harus melalui proses dan memenuhi kriteria tertentu, sehingga bila suatu hubungan tidak memenuhi kriteria tersebut, maka tidaklah ada bedanya hubungan tersebut dengan hubungan yang dilakukan oleh binatang.

Penulis: Ustadz Muhammad Arifin Badri
Sumber : http://yahyaayyash.wordpress.com/2008/06/02/keindahan-islam-dalam-pergaulan-laki-laki-dan-wanita/

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS